Strict (2048): Declaration of SluggableBehavior::setup() should be compatible with ModelBehavior::setup(Model $model, $config = Array) [APP/Plugin/Sluggable/Model/Behavior/SluggableBehavior.php, line 365]
Strict (2048): Declaration of SluggableBehavior::beforeSave() should be compatible with ModelBehavior::beforeSave(Model $model) [APP/Plugin/Sluggable/Model/Behavior/SluggableBehavior.php, line 365]
Strict (2048): Only variables should be passed by reference [CORE/Cake/Model/BehaviorCollection.php, line 150]
Strict (2048): Only variables should be passed by reference [CORE/Cake/Model/BehaviorCollection.php, line 150]
Strict (2048): Declaration of User::beforeValidate() should be compatible with Model::beforeValidate($options = Array) [APP/Model/User.php, line 174]
Strict (2048): Declaration of JavascriptHelper::value() should be compatible with Helper::value($options = Array, $field = NULL, $key = 'value') [APP/View/Helper/JavascriptHelper.php, line 687]
Strict (2048): Declaration of JavascriptHelper::afterRender() should be compatible with Helper::afterRender($viewFile) [APP/View/Helper/JavascriptHelper.php, line 687]
Strict (2048): Declaration of AjaxHelper::afterRender() should be compatible with Helper::afterRender($viewFile) [APP/View/Helper/AjaxHelper.php, line 1398]
Amaliah Ramadhan :: Santi Asromo Islamic Boarding School

Amaliah Ramadhan

Satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al-Quran adalah Ramadhan. Penyebutan bulan Ramadhan tersebut dikaitkan dengan turunnya Al-Quran dan diwajibkannya shaum. Hal itu seakan menjadi isyarat dari Allah Swt. bahwa untuk meraih kesucian, cahaya, dan lautan ilmu Al-Quran, hati orang beriman harus suci bersih dan itu dapat diraih dengan shaum.

Al-Quran menjadi pedoman bagi orang yang bertakwa dan shaum mengantarkan orang beriman menjadi muttaqin. Amaliah Ramadhan terfokus pada dua hal tersebut. Bagaimana dengan amaliah Ramadhan yang lain? Tetap harus diperbanyak karena hal itu merupakan ibadah untuk mengondisikan hati dalam menerima kebenaran Al-Quran dan upaya untuk mengaplikasikan nilai-nilai Al-Quran.

Lantas, apa saja amaliah yang harus kita lakukan atau perbanyak selama Ramadhan? Berikut penjelasannya.

1. Shaum 

Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja shaum. Agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan tentang shaum yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, shaum bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Sabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memerhatikan apa yang semestinya diperhatikan, hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (H.R. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).

Inti shaum adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, nilai puasa kita akan berkurang. Semua itu tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shaum. Dengan begitu, saum yang kita lakukan akan menghasilkan ganjaran dari Allah berupa ampun-Nya.

Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan shaum tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus, meskipun dengan shaum sepanjang masa. Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai shaum Anda.

2. Membaca Al-Quran

Pada bulan ini, umat Islam harus benar-benar berinteraksi dengan Al-Quran untuk meraih keberkahan hidup dan meniti jenjang menuju umat yang terbaik dengan petunjuk Al-Quran. Berinteraksi dalam arti hidup dalam naungan Al-Quran, baik secara tilawah (membaca), tadabur (memahami), hifzh (menghafalkan), tanfiidzh (mengamalkan), ta’liim (mengajarkan), dan tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman). Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkannya.”

3. Qiyam Ramadhan

Ibadah yang sangat ditekankan Rasulullah di malam Ramadhan adalah qiyam Ramadhan. Qiyam Ramadhan diisi dengan shalat malam atau yang biasa dikenal dengan shalat Tarawih. Karena khawatir akan dianggap wajib, Rasulullah melaksanakan shalat Tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari saja. Saat itu, Rasulullah Saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Akan tetapi, di saat kekhawatiran tersebut sudah tidak ada karena umat sudah mengerti duduk perkaranya, Umar bin Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (H.R. Abdur Razzaq dan Baihaqi). Meski demikian, 11 rakaat tentu lebih diutamakan. 

4. Memperbanyak Dzikir, Doa, dan Istighfar

Pada bulan Ramadhan, pahala setiap kebaikan akan dilipatgandakan. Oleh karena itu, jangan biarkan waktu di bulan Ramadhan terbuang sia-sia tanpa aktivitas yang berarti. Di antara aktivitas yang sangat penting dan berbobot tinggi tetapi ringan dilakukan adalah memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar. Doa orang-orang yang berpuasa sangat mustajab sehingga perbanyaklah berdoa untuk kebaikan diri dan umat Islam secara umum, khususnya yang sedang ditimpa kesulitan dan musibah.

5. Sedekah, Infak, dan Zakat

Rasulullah Saw. adalah orang yang paling pemurah dan di bulan Ramadhan beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah Saw. di bulan Ramadhan melebihi angin yang berembus karena begitu cepat dan banyak. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (H.R. Baihaqi, Al-Khatib, dan Turmudzi). Salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan adalah memberikan ifhtar (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa.

Rangkaian ibadah Ramadhan ditutup dengan infak, yaitu infak wajib berupa zakat fitrah. Zakat fitrah dibayar pada hari-hari terakhir Ramadhan. Tujuannya, mensucikan orang yang melaksanakan shaum dan untuk membantu kaum fakir miskin.

6. Itikaf

Inilah amaliah Ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah Saw. Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah beritikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam sehingga sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan itikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.” Mudah-mudahan Anda bukan dari golongan yang kebanyakan itu.

7. Menuntut Ilmu dan Menyampaikannya

Bulan Ramadhan adalah saat yang paling baik untuk menuntut ilmu keislaman dan mendalaminya. Di bulan Ramadhan, hati dan pikiran sedang dalam kondisi bersih dan jernih sehingga sangat siap menerima ilmu-ilmu Allah Swt. Maka, waktu-waktu seperti sesudah Subuh, sesudah Dzuhur, dan menjelang berbuka, sangat baik dipergunakan untuk menuntut ilmu. Pada saat yang sama, para ustadz dan dai meningkatkan aktivitasnya untuk berdakwah menyampaikan ilmu kepada umat Islam yang lain.

8. Meraih Lailatul Qadar

Pada bulan Ramadhan, ada satu malam yang istimewa, yaitu lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah Saw. senantiasa berusaha untuk meraih lailatul qadar. Maka, beliau pun menyuruh kita melakukan hal yang sama, terutama pada malam-malam (hitungan) ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Alasannya, “Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” begitu sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

9. Umrah

Umrah pada bulan Ramdhan juga sangat baik dilaksanakan karena akan mendatangkan pahala yang berlipat-lipat sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinan. “Apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah dia melakukan umrah karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah Saw.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

10. Menjaga Keseimbangan dalam Ibadah

Keseimbangan dalam beribadah adalah sesuatu yang prinsip, termasuk melaksanakan ibadah-ibadah mahdah di bulan Ramadhan. Kewajiban keluarga harus ditunaikan, begitu juga kewajiban sosial lainnya. Rasulullah Saw. senantiasa menjaga keseimbangan tersebut. Walaupun khusyuk dalam beribadah di bulan Ramadhan, tetapi beliau tidak mengabaikan hak-hak keluarga. Hal itu diungkapkan oleh dua istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah r.a. Bahkan, ketika Rasulullah berada dalam puncak praktik ibadah shaum, yakni itikaf, harmonisasi itu tetap terjaga. Wallahu’alam