Kunjungan Mentan di Ponpes Santi Asromo

Indonesia setiap tahunnya kehilangan areal sawah sekitar seratus ribu hektare akibat alih fungsi lahan baik untuk pembangunan perumahan, pabrik dan pembangunan infrastuktur lainnya. Tak heran bila Bulog terus berupaya impor beras untuk cadangan pangan nasional sebanyak 1,5 juta ton pada akhir tahun.

Menurut keterangan Menteri Pertanian Suswono saat berkunjung ke Pesantren Santi Asromo di Desa Pasirayu Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Senin (23/6/2014), saat ini pemerintah pusat tidak bisa berbuat banyak untuk menekan terjadinya alih fungsi lahan, karena alih fungsi lahan kebijakannya berada di pemerintan daerah yakni bupati dan wali kota.

“Yang menetapkan lahan berkelanjutan itu bupati dan wali kota, lewat Peraturan Daerahnya, sementara Menteri Pertanian tidak mampu berbuat banyak untuk menahan alih fungsi tersebut. Karenanya peran pemerintah daerah cukup penting untuk hal tersebut, kuncinya adanya kemauan politik dan politik anggaran,” ungkap Suswono.

Untuk mengatasi kekurangan pangan dan menaikkan produksi gabah diupayakan lewat jajar legowo, pemupukan yang berimbang, metoda penen yang baik serta meningkatkan teknologi pertanian. Saat ini bahkan ada peran TNI untuk meningkatkan ketahanan pangan tersebut antara lain lewat kerjasama pembasmian tikus bersama TNI, penanaman kedelai bersama TNI serta beberapa program lainnya.

“Indonesia sekarang setiap tahunnya hanya mampu membuat areal sawah seluas empat puluh ribu hektare, sementara kehilangan sawah akibat alih fungsi lahan hingga mencapai seratus rubu hektaran, itu artinya Indonesia devisit sawah hingga enam puluh ribu hektaran. Bayangkan saja untuk pembangunan ruas tol saja kehilangan sawah minimalnya hingga 5.000 hektaran, belum ditambah sarana penunjang lainnya dan masyarakat yang berupaya membuat bangunan di tol atau pingir pintu tol, ” ungkap Suswono.

Ke depan bila produksi naik diharapkan Indonesia tidak perlu melakukan impor beras dari negara lain, seperti halnya di tahun 2012 lalu. Namun bila diakhir tahun ini ternyata stok Bulog kurang dari 1,5 juta ton maka impor terpaksa dilakukan lagi. Impor tersebut dilakukan kerena pengadaan oleh pangan yang tidak terpenuhi akibat harga gabah di tingkat petani cukup tinggi diatas harga dasar pembelian pemerintah yang hanya Rp 6.600/kg.