Strict (2048): Declaration of SluggableBehavior::setup() should be compatible with ModelBehavior::setup(Model $model, $config = Array) [APP/Plugin/Sluggable/Model/Behavior/SluggableBehavior.php, line 365]
Strict (2048): Declaration of SluggableBehavior::beforeSave() should be compatible with ModelBehavior::beforeSave(Model $model) [APP/Plugin/Sluggable/Model/Behavior/SluggableBehavior.php, line 365]
Strict (2048): Only variables should be passed by reference [CORE/Cake/Model/BehaviorCollection.php, line 150]
Strict (2048): Only variables should be passed by reference [CORE/Cake/Model/BehaviorCollection.php, line 150]
Strict (2048): Declaration of User::beforeValidate() should be compatible with Model::beforeValidate($options = Array) [APP/Model/User.php, line 174]
Strict (2048): Declaration of JavascriptHelper::value() should be compatible with Helper::value($options = Array, $field = NULL, $key = 'value') [APP/View/Helper/JavascriptHelper.php, line 687]
Strict (2048): Declaration of JavascriptHelper::afterRender() should be compatible with Helper::afterRender($viewFile) [APP/View/Helper/JavascriptHelper.php, line 687]
Strict (2048): Declaration of AjaxHelper::afterRender() should be compatible with Helper::afterRender($viewFile) [APP/View/Helper/AjaxHelper.php, line 1398]
Memperingati Fusi PUI ke 66 :: Santi Asromo Islamic Boarding School

Memperingati Fusi PUI ke 66

بسم الله الرحمن الرحيم

اللّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ في نعمة و عافية و ستر، فَأَتِمَّ عَلَيَّ نِعْمَتَكَ وَ عَافِيَتَكَ وَ سِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ

Ya Allah,  sesungguhnya aku memulai pagi ini dengan kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu. Maka sempurnakanlah untukku kenikmatan, kesehatan, dan perlindungan-Mu itu, di dunia dan di akhirat...

Dalam menyikapi permintaan pemerintah Pendudukan Jepang, Persjarikatan Oelama berkonsultasi dengan Hoofdbestuur Muhammadiyah di Jogjakarta, Hoofdbestuur Al-Ittihadijatoel Islamjjah di Sukabumi, dan organisasi-organisasi Islam lainnya guna menjajagi kemungkinan dilanjutkannya usaha-usaha perhimpunan mereka yang telah dirintisnya sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah Ambary wafat,  pucuk pimpinan Persjarikatan Oelama berada dipundak Djeman (yang karena tubuhnya gempal, ia biasa dipanggil Semar dari Cirebon). Pada periode Djeman kegiatan kunjungan ke beberapa organisasi Islam terus dilanjutkan (Akim, 1968: 21; Wanta, 1991: 22-23).

Perikatan Ummat Islam adalah nama baru bagi Persjarikatan Oelama, dibentuk pada tahun 1943 atas ajuan Ahmad Ambary, Asyikin Hidayat, dan Abdoel Halim. Sedangkan Al-Ittihadijateol Islamijah berganti nama menjadi Persatuan Ummat Islam Indonesia dan resm berbadan hukum pada 1 Februari 1944 (Benda, 1980: 303; Iskandar,  1991: 276); Ambary, 2006: 253).

Pada Kongres Al-Ittihadijatoel Islamijjah ke-4 yang dilaksanakan di Cianjur pada 24-27 Desember 1940, muncul usulan agar organisasi Ittihadijatoel Islamijjah melakukan fusi dengan organisasi Islam yang sepaham. Usulan tersebut dikemukakan oleh peserta dari Bogor dan Karang Tengah. Akan tetapi, kongres menolak usulan fusi tersebut, karena waktu itu segalanya belum memungkinkan. Tampaknya, usulan fusi dari peserta Kongres Ittihadijatoel Islamijjah ke4, selalu membayangi pikiran Ahmad Sanoesi. Sehingga setelah menemukan organisasi yang dalam pemahaman Ahmad Sanoesi sepaham organisasinya, niatan itu dikemukakan kepada Abdoel Halim. Sementara Abdoel Halim, menyepakati keinginan Ahmad Sanoesi tersebut, guna syi'ar Islam yang lebih luas.

Pesan yang ingin disampaikan Samsuddin kepada Abdoel Halim, di antaranya terdapat pada paragraf 3 surat itu. Samsuddin mengemukakan, "Soal jang hendak saja kemukakan kepada Kakanda itu, ialah soal "PUI" dan "PUII" (Persatuan Ummat Islam Indonesia). Selanjutnya dalam paragraf 5 dikemukakan, "Kakanda dahulu sudah pernah kiranja antara Almarhum Kiai H.A. Sanusi dan Kakanda dipertjakapkan setjara belum mendalam kemungkinan dilakukannja FUSI antara "PUI" dan "PUII". Tidaklah hal itu pada waktu ini lebih lagi beralasan untuk diwujudkan? Kedua paragraf di atas menunjukkan, bahwa Abdoel Halim dan Ahmad Sanoesi telah lama dan sama-sama sudah membicarakan upaya fusi kedua organisasi mereka...

[Seabad Persatuan Ummat Islam (1911-2011), Dr. Wawan Hernawan, M .Ag. halaman 307-308.]

...Kemudian pada berbagai kesempatan, betapapun sibuknya mereka sebagai wakil-wakil rakyat dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dalam bahasa Jepangnya disebut Dokoritsu Zyumbi Choosakai, mereka menyempatkan diri untuk menyusun rencana teknis pelaksanaan fusi dari kedua organisasi mereka.

Rencana mengenai nama bentuk organisasi hasil fusi yaitu Persatuan Ummat Islam, rencangan (konsep) kepengurusan,  waktu serta tempat diadakan fusi, dan lain-lain telah disepakati bersama. Tetapi ditakdirkan, sebelum upacara fusi dilaksanakan, KH. Ahmad Sanusi dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Beliau wafat tahun 1950. Sesuai dengan wasiat beliau kepada keluarga dan pengurus PUII agar pelaksanaan fusi secepatnya direalisasi, maka pada tanggal 5 April 1952 bertepatan dengan 9 Rajab 1371 H. PUI dan PUII berfusi menjadi "Persatuan Ummat Islam" (PUI). Kemudian dinyatakan sebagai "Hari Fusi PUI."

Pendiri-pendiri PUI tersebut, yaitu K.H. Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi dan Mr. Syamsuddin, berkat jasanya dalam memperjuangankan Jemerdekaan Indonesia, dianugrahi Bintang Maha Putera Utama, berdasarkan No. 048/TK/Tahun 1992 tanggal 12 Agustus 1992.

[Sejarah Singkat Persatuan Ummat Islam (PUI) halaman 6-7]

Selamat hari "Hari Fusi PUI." ke 66 Semoga bisa mewujudkan tujuannya, "Tujuan Perhimpunan adalah terwujudnya pribadi, keluarga, masyarakat,  negara, dan peradaban yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala." [Pasal 4 Anggaran Dasar Persatuan Ummat Islam (PUI)]

الفقير الى الله

Sumber : puipusat.org 

Penulis : Eka Hardiana