Belajarlah menerima taqdir yang menimpa diri kita
Kita sulit menerima takdir yang menimpa diri kita, apalagi
jika takdir itu berupa kesulitan atau kegagalan… sesuatu yang tidak diharapkan
terjadi pada diri kita… sesuatu yang menurut pemahaman kita tidak baik buat
kita. Pada saat itu, seringnya kita lupa… Allah Sang Pencipta takdir… Sang
Pencipta kita… PASTI lebih tahu apa yang terbaik buat ciptaanNya. Kita lupa,
Allah SWT telah mengklaim… tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali
sesuai dengan kemampuannya… Laa yukalifuLLahu nafsan illa wus'aha….
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Ketika seseorang menerima takdir yang menimpa dirinya…
menerima ketentuan Allah atas dirinya… ridho kepada qodho dan qodar Allah… ia
akan ikhlas dan rela menerima apapun yang diputuskan Allah kepada dirinya tanpa
syarat, dan menganggapnya sebagai sesuatu atau cobaan yang perlu dihadapinya.
Ridho merupakan buah dari cinta seorang mukmin kepada Allah. Seseorang yang
mencintai seseorang akan menerima semua keinginan dan permintaan dari yang
dicintainya. Disimpan dan dibawa Allah ada dalam Al Qur'an.
Kehendak Allah kepada kita kejadian yang telah berlangsung,
tidak dapat dihindarkan, dan tidak diketahui sebelumnya. Semua dan keburukan
dari apa yang menimpa kita, semua dari sisi Allah.Tak ada seorangpun yang dapat
menghindari dari rahmatNya dan kecelakaan yang ditimpakanNya kepada seseorang.
Setelah kondisi fisik seorang manusia dalam rahim ibunya
selama 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh menyampaikan dan
menyampaikan 4 perkara: rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi
sengsara atau bahagia.Rasulullah mengingatkan bahwa amal perbuatan seseorang
selama dia tidak menjamin keadaannya di akhir hidupnya. Semua tergantung pada
kehendak Allah. Ada seseorang yang selama hidupnya senantiasa beramal baik
dengan amalan penghuni surga, hingga jaraknya tinggal sehasta, namun takdir
Allah mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni neraka, hingga masuklah
ia ke dalam neraka. Malah ada seseorang yang selama hidupnya senantiasa beramal
dengan amalan neraka, hingga jaraknya tinggal sehasta, namun takdir Allah
mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni surga, hingga ia pun masuk ke
dalamnya….
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita….
Takdir merupakan pertemuan antara ikhtiar atau usaha manusia
dengan kehendak Allah. Hidup merupakan rangkaian usaha demi usaha, sambungan
ikhtiar demi ikhtiar. Namun ujung dari usaha dan puncak ikhtiar tidak selalu
berhubungan langsung dengan kesuksesan dan Ada simpul lain yang terhubung
dengan percaya, yaitu kehendak Allah. Simpul yang tidak diketahui oleh manusia,
yang gelap bagi kita semua… Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok… (QS. Luqman: 34)
Pada setiap usaha yang kita lakukan, kita harus melakukan
segala sesuatu dengan baik, profesional, tersier, dan penuh semangat. Pada
wilayah yang gelap, usaha kita adalah: berdoa, berharap, dan bertawakal kepada
Allah. Dalam setiap ikhtiar yang kita usahakan, harus kita tutup kalkulasi
optimisme dengan kata 'semoga' atau 'mudah-mudahan.'
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Bagi seorang mukmin, kata 'semoga' atau 'mudah-mudahan'
bukan hanya masalah kebergantungan, tapi juga merupakan buah dari pemahamannya
terhadap prinsip aqidah Islam… tempat menyandarkan seluruh pengharapan kita.
Dari sinilah tumbuh energi tawakal, kepasrahan yang tidak berakhir dengan putus
asa, namun pengharapan atas kehendak Allah yang baik atas dirinya dengan
senantiasa memilih jalan yang layak, menata segala upayanya, lalu memohon
kesuksesan kepada Allah.
Kata 'semoga' atau 'mudah-mudahah' membuat kita menjadi
lebih bijak menyikapi takdir yang menimpa diri kita. Kita akan lebih bisa
memaknai setiap takdir yang menimpa kita dengan: dibalik semua ini, pasti ada hikmahnya.
Tidak larut dalam penyesalan yang mendalam… tidak larut dalam perasaan atas
setiap keputusan yang diambilnya… tidak menyalahkan takdir… dibalik semua ini
pasti ada hikmahnya.
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Yakinlah bahwa setiap takdir Allah untuk kita selalu baik,
apapun bentuk takdir itu. Takdir yang baik, tentu baik untuk kita. Takdir yang
nampak tidak menguntungkan buat kita, ternyata ada yang Allah 'paksakan' untuk
kita… yang tidak kita sadari saat itu .. Yakinlah bahwa Allah melihat yang
terbaik untuk kita…
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Boleh jadi, takdir yang menimpa diri kita merupakan tangga
untuk mencapai derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Allah akan senantiasa
menguji seorang hambaNya hingga terlihat siapa yang berhak mendapatkan tempat
terbaik di sisiNya. Ujian diberikan untuk memilih yang terbaik untuk
mendapatkan tempat yang terbaik. Perlu stamina yang kuat dan persiapan yang
baik untuk menyelesaikan segala bentuk ujian.
Allah telah menyampaikan dalam QS Al Mulk: 2 bahwa Allah
menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk melihat siapa yang
terbaik amalannya. Dalam QS Al Insan: 2 juga diagram bahwa Allah menciptakan
manusia untuk diuji dengan segala perintah dan laranganNya. Namun, Allah tidak
begitu saja begitu makhlukNya hidup tanpa bekal. Allah mengkaruniakan pendengaran
dan penglihatan untuk digunakan manusia yang menjalani hidupnya… menemukan
petunjukNya… menemukan jalan dan menguasai segala permasalahan… menemukan kunci
dan penerang untuk lolos dalam ujian hidupnya.
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Boleh jadi, takdir yang menimpa diri kita adalah buah dari
pohon-pohon dosa kita. Dosa-dosa kecil yang kita abaikan dari mohon ampunanNya…
yang kita semai dan kita tumbuh suburkan… akan menghasilkan buah yang akan kita
petik hasilnya. Jika musibah datang beruntun, kegagalan terus menghantui kita,
sudah saatnya kita berkaca dan mengoreksi diri. Kotoran atau coreng-moreng apa
yang telah menodai perjalanan hidup kita? Dosa apa yang telah kita lakukan
sehingga menghalangi kita mencapai kesuksesan? Setelah itu hapuslah kotoran dan
coreng-moreng itu dengan taubat dan istighfar.
Ada hubungan yang kuat antara taubat dan istighfar dengan
hidup. Nabi Nuh mengajarkan kepada kaumnya:… ”Mohon ampunlah kepada Tuhanmu,
sebenarnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan
kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun, dan mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai ”… (QS. Nuh:
10-12).
Ibnu Qoyyim menasihati:
… Jika kenikmatan dalam kenikmatan, peliharalah kenikmatan
itu… sesungguhnya kemaksiatan dapat menghilangkan kenikmatan… dan ikatlah
kenikmatan dengan taat kepada Tuhanmu, karena Tuhanmu Maha Cepat pembalasanNya…
Kenikmatan yang hilang dan berubah menjadi kegagalan 'buah
karya' kita sendiri. ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan
oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS Asy-syuro: 30).
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Boleh jadi, takdir yang men diri kita adalah cara terbaik
untuk meringankan dosa di hari kiamat. Ketika Rasulullah Saw sakit menjelang
wafatnya, beliau bersabda ”… Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu rasa sakit
dengan duri atau apa saja, kecuali Allah menggugurkan dosa-dosanya seperti
pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari). Di antara rahmat dan kasih
sayang Allah SWT kepada mukmin adalah dikuranginya dosa mereka di dunia.
Musibah, bencana, dan kegagalan yang menimpa, bagaikan air yang menyiram dan
mematikan api dosa. Hingga bisa jadi orang yang dosanya banyak, setelah diuji
dengan musibah dia tetap beriman, ia akan menghadapi Allah kelak dengan beban
dosa yang ringan atau tanpa dosa. Sehingga selipkanlah rasa syukur dan
tumbuhkan kesabaran atas setiap takdir yang menimpa diri kita, terutama yang
berupa musibah.
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Boleh jadi, takdir yang menimpa diri kita adalah harga wajib
untuk mencapai kesuksesan lain. Ketika di awal usaha kita, kita tidak
mendapatkan hasil yang kita inginkan, bahkan gagal mendapatkannya, bisa jadi
Allah punya rencana bagi kita untuk memilih usaha lain yang akan mendatangkan
hasil yang lebih baik. Kegagalan merupakan langkah untuk mencapai kesuksesan,
jika kita terus berusaha dan berdoa. Ketika seorang wanita belum mendapatkan
jodohnya karena berbagai hambatan, boleh jadi Allah telah menetapkan jodoh yang
lebih baik untuk mendampinginya. Ketika seseorang terus ditolak ketika mencari
pekerjaan, boleh jadi Allah telah memilihkan pekerjaan yang lebih baik untuk
dia.
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Boleh jadi, takdir yang menimpa diri kita merupakan lampu
kuning pengingat, agar kita lebih banyak berkaca diri. Mungkin sebelum musibah
menimpa kita, kita sedang lupa cermin tempat mengoreksi diri. Apakah ada
goresan-goresan atau titik-titik yang mengotori hati kita. Musibah, kegagalan,
kesulitan hidup bisa menjadi pengingat bahwa kita harus banyak berkaca diri,
mengoreksi diri bahwa dosa kita sudah cukup mengkhawatirkan sehingga Allah
memberi peringatan dan teguran kepada kita. Sebelum Allah melanjutkan dengan
siksa dan azabNya, segeralah bertaubat.
Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita…
Sebelum kita melangkah… sebelum kita menentukan pilihan,
mohonlah petunjuk kepadaNya:
Ya Allah, aku mohon pilihanMu menurut pengetahuanMu
dan aku mohon dengan kekuasaanMu, dan aku mohon karuniaMu yang Agung
Ssesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Kuasa dan aku tidak
Engkau Yang Maha Mengetahui dan tidak melihat,
dan Engkau Maha Mengetahui yang ghaib
Ya Allah, ramah Engkau tahu bahwa urusanku baik bagiku, di
dalam agamaku dan hidupku, serta baik-baik saja akibatnya bagiku (di masa
sekarang atau masa yang akan datang), maka kuasakanlah dan mudahkanlah urusan
ini untukku, kemudian berkahilah untukku; dan Engkau melihat bahwa urusan ini
tidak baik bagiku, di dalam agamaku dan hidupku, serta akibatnya bagiku (di
masa sekarang dan masa yang akan datang), maka jauhkanlah urusan ini, dan
tentukanlah yang baik untukku di mana pun aku berada, kemudian ridhoilah aku
dengan, itu…
Wallahu 'alam bishshowab… al haqqu mirrobbika falaa
takunnana minal mumtarin…… Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka janganlah
kita ragu untuk menerimanya…
